TARAPAN
Tarapan adalah upacara untuk memeringati haid pertama (menarche) seorang Gadis
Upacara dilaksanakan tujuh hari setelah permulaan haid yang pertama, sehingga
upacara ini tidak dapat direncanakan dengan pasti. Pada jaman dahulu, seorang gadis
tersebut tidak diijinkan keluar rumah yang disebut dengan istilah “dipingit”.. Selama tujuh
hari dilakukan pengasingan dalam kamar tersendiri. Pada saat pengasingan ini secara silih
berganti, ibu, sanak saudara perempuan, dan para pinisepuh melakukan tuguran (tidak
tidur di malam hari) secara bergiliran. Maksudnya untuk menemani saat pengasingan, juga
untuk memberikan nasehat dan bekal hidup bagi anak tarap mengenai tugas, kewajiban,
pantangan, anjuran, yang harus dilakukan sesudah memasuki masa dewasa.
Selesai hari ketujuh, akan dilanjutkan dengan siraman(mandi suci) menggunakan air setaman (campuran air dan bunga), yang melambangkan penyucian diri lahir dan batin.
Makna dan Komponen Air Siraman
Tujuh Sumber Mata Air: Melambangkan pitu (tujuh) yang dimaknai sebagai pitulungan (pertolongan) dan pituduh (petunjuk) bagi kedua mempelai dalam mengarungi rumah tangga.
Bunga Setaman: Terdiri dari mawar, melati, dan kenanga yang menebarkan wangi, melambangkan keharuman nama, kesucian, dan cinta kasih.
Gadis yang sedang menarche memakai baju khas dengan rambutnya di sanggul lengkap, kemudian diberi berbagai obat-obatan tradisional yang berupa jamu mamahan dan jamu godhogan, menelan telur mentah, diberi alas duduk yang berasal dari dedaunan dan empon-empon, yang semuanya dimaksudkan untuk menjaga kesehatan, kebugaran, serta kecantikan dari anak tarap. Pemberian jamu-jamu tradisional tersebut, juga merupakan pendidikan perilaku hidup yang sehat yang harus dilakukan oleh seorang perempuan.
Selanjutkan akan dilaksanakan kenduri dan pembacaan doa untuk memohon keselamatan.
Dari langkah-langkah pelaksanaan upacara tarapan tersebut, dapat dilihat bahwa berbagai topik tentang pendidikan seksual dapat diberikan melalui upacara tarapan. Mulai dari kondisi fisik seorang perempuann yang sudah mengalami haid, tugas dan kewajiban, pantangan dan anjuran, sampai cara-cara menjaga kesehatan, kebugaran, dan kecantikan perempuan.
Keluarga membuat tumpeng robyong, sesaji yang terdiri dari rempah-rempah dan bumbu dapur serta bubur merah putih. Ciri khasnya adalah nasi putih yang dihias dengan telur, cabai, bawang merah, dan terasi di puncaknya.Tumpeng jenis ini memiliki ciri khas, yaitu di ujung atas tumpeng terdapat telur ayam utuh, terasi bakar, bawang merah utuh, dan cabai merah, kesemuanya ditusuk seperti satai menggunakan bilah dari bambu atau sujen. Di sekelikingnya ditancapi sayur-sayuran, sehingga terkesan meriah.
Sesaji itu dimaksudkan untuk menolak bala. Pada upacara ini tidak ada pria yang boleh ikut,
#tradisijawa
#tarapan
#upacaraakilbaligh
#Tumpeng Robyong
#upacara akil baligh perempuan Jawa



Tidak ada komentar:
Posting Komentar