Bab 2. Pesta Penyambutan
Hari ini di pendopo Kadipaten mojowarno di hias banyak bunga, suasana lebih ramai dan semarak, rupanya tuan muda putra sang adipati kembali dari negeri seberang, setelah masa menuntut ilmunya selesai, penyambutan di siapkan sedemikian rupa.Dapur penuh aroma masakan yang pasti nya mengunggah selera, para abdi dalem hilir mudik menyiapkan perlengkapan. Kloso mendong* sudah di gelar, aneka polo pendem* buat camilan di letakan di nampan,Uap masih mengebul di atasnya.
Ndoro Ajeng sibuk mengecek perlengkapan pesta perjamuan dari dekorasi hingga jamuan tak luput dari kritikan nya, tapi memang harus di akui beliau sangat teliti dan perfeksionis untuk memastikan sukses nya acara. Memang istri sang adipati di berkahi kecerdasan lebih untuk mengemas suatu acara. Gurat ayu nampak jelas di wajahnya, meski sudah tidak muda lagi.
Kentongan penanda waktu sudah di tabuh, menandakan sudah pukul 6 sore,ibadah pun sudah di tunaikan,pelita di pendopo sudah di nyalakan, lampu lampu gantung berpijar dengan indah, jalan menuju pendopo sudah di beri penerangan untuk menyambut para tamu yang datang, pendopo pun kembali semarak dengan persiapan, Dupa pengharum ruangan tak lupa di nyalakan,Dupa kualitas premium kiriman Saudagar India sahabat Sang Adipati.Aneka jajanan di tata sedemikian cantiknya, ada aneka jajanan tradisional ongol ongol, seteling, suwarsuwir, beberapa kue khas Belanda,Ontbijtkoek,Spekkoek,Bitterbalen karena memang ada tamu dari perkebunan Selosanen Sang administrature yang berkebangsaan Belanda.Aneka dan olahan ayam, sayur semua tersedia lengkap,arak legen khas Mojowarno pun tak lupa di sajikan.
Waranggana sudah siap di posisi masing masing, aba aba klenengan untuk peyambutan mulai di tabuh ketika tamu pertama datang,
Raden mas Wardoyo yang menjadi bintang di malam ini pun sudah siap dengan style perpaduan Eropa Jawa, jas berwarna putih tak lupa dasi kupu-kupu hitam, dipadu dengan bawahan jarik motif batik parang, Blangkon berwarna senada sebagai pelengkap penampilan menambah ketampanan bangsawan Jawa muda itu.Jam saku tak lupa menambah gengsi.Perpaduan aristokrat dan intelektual.Dia sudah siap di pendopo menyambut para tamu, dengan senyum mengembang di salaminya para tamu yang kebanyakan kolega romonya.Kebanyakan mereka membawa putra putri nya yang sudah memasuki usia menikah untuk sekalian mencari jodoh.Para perjaka dan gadis bangsawan berdandan dengan baju terbaik mereka kebaya broklat,kebaya berbahan sutra, beskap dengan bahan kelas atas berpadu jarit batik berprada emas nampak bersliweran.Perhiasan perhiasan mewah nampak di tubuh mereka.Mereka berharap mendapat jodoh, mantu yang jelas bebet, bibit, bobot nya, yang jelasnya lagi lingkar kekuasaan.Manusiawi sekali bukan, selalu silau dengan gemerlap dunia.Suara gending dari gamelan terus bertalu,sinden sinden* ayu bergantian nembang mendayu.
Suasana makin panas di saat para Ledek mulai menari, para lelaki yang mulai mabuk tuak mulai lepas kontrol diri.Ketika waktu sawer tiba suasana makin riuh, para lelaki bersaing untuk mendapatkan kalungan sampur dari sang Ledek. Ada juga yang di jewer istrinya karena kedapatan menggoda Sang Ledek, pertengkaran kecil lazim di arena saweran.
Raden Mas Wardoyo tertawa kecil, hal inilah yang di kangeni ketika ia menempuh pendidikan Rijksuniversiteit Leiden Netherlands.
Negeri orang memang menawan, tapi negeri sendiri selalu di hati.
Tepukan kecil di punggung mengalihkan perhatian nya dari panggung pertunjukan, teryata Biyung nya Sang Ratu Kadipaten Mojowarno. " Putraku sungkem dulu sama Pakdhe " Suruh Sang ibunda, ternyata di belakang nya ada Pakdhe dan keluarga nya,Mbah Guru Djiyo orang orang memanggilnya, yang merupakan kakak angkat dari Romoku,Setelah sungkem perhatian ku teralihkan pada seorang gadis muda di samping Budhe Djiyo wajahnya ayu dengan mata lebar di bingkai bulu mata lebar, panjang dan lentik, binar matanya menandakan kecerdasan, hidungnya ngundhup Melati*, Bibirnya penuh mengingat kan ku pada Gadis latin yang sexy,pipinya penuh dagunya lebah menggantung, Gadis itu pandangannya fokus di panggung hiburan tempat para lelaki menari, "Kinasih , nduk Kinasih" Suara Pakdhe mengalihkan perhatiannya, Ia menatap Bapaknya "Ayo salam sama kangmas mu, masih ingatkan" Tanya Pakdhe, Kinasih mengangguk dan memberi salam padaku.
Ternyata ia gadis kecil itu, putri ragil pakdhe, kenapa tumbuh menjadi gadis secantik ini batin Raden Mas Wardoyo,tubuh nya juga molek nawon kemit pinggulnya,tinggi nya juga di atas rata rata wanita di sekitar ku.Harus di akui, gadis ini menjadi wanita paling cantik di perjamuan. Putri para wedana lain kalah telak. Padahal Kinasih berpakaian sederhana kebaya encim putih di padu bordir bunga biru, dengan kain jarik motif Cirebonan, rambut nya di sanggul hanya dihiasi mawar sisi kanan nya, tak ada perhiasan lebih. Tapi gadis itu membuat sinar nya sendiri. Kinasih putri Mbah Guru DJiyo.
Notes :
- Kloso Mendong
- Polo Pendem
- Ledek
- Sinden